Langsung ke konten utama

Ucapan adalah Doa

Heloowww... Balik lagi deh sama tulisan absurd di tengah malam. Hehe.

Jadi, gue lagi-lagi punya kegelisahan tentang beberapa hal yang... Karena gue begitu pengecut memperjuangkannya, akhirnya gue memutuskan untuk mengeluarkan ucapan seperti itu deh...

Buat kalian yang kenal deket sama gue, mungkin beberapa pernah denger kisah² asmara gue dari awal mulai ngebandel di sekolah kali ya... Ngumpet². Hahaha. Ah mana pernah terang²an, sampai sekarang gue masih sepengecut itu buat sekedar membawa si doi untuk menyapa keluarga. Gimana ya... Masih ngerasa sepertinya belum tepat waktunya, yaudah deh jalanin dulu aja. Dan akhirnya gue terjebak sendiri dengan perasaan yang semakin besar dan kita yang kunjung mau pergi. Terlanjur sayang, ah basi... Padahal lagi-lagi iyaa iyaaa salah gue sendiri.

Okedeeh cukup muter²nya. Eh guys, khususon sahabat² gue, pernah kan denger gue bilang gini? "Eh kalo misalnya gue nanti ga nikah², dan diantara kalian ada yg belom nikah juga. Udahlah gue ama saah satu dari kalian aja yg udah tau seluk-beluk ke-bar-bar-an hidup gue." (Note: sahabat gue campuran dan lebih dominan cowok kalo lagi ngumpul. Maaf deeh, mungkin ga etis, tapi mereka baik, dan sangat menghargai gue sebagai perempuan jadi gue nyaman). Hehe

Atau ada ga sih diantara kalian yang pernah jadi sasaran empuk tempat gue curhat kalo gue lagi galau berat nentuin arah hidup dan masa depan gue apakah sudah bener² siap berjuang bersama si dia, terus pas gue lagi insecure banget, gue akhirnya bilang gini, "yaudahlah... Jalanin aja dulu. Pasrah... Yang penting ada orang yg sekarang bahagiain gue kalo lagi down, bantu nenangin, karena gue ga bener-bener bisa sendirian. Udahlah... Ujung²nya juga kalo ga nemu yang se"sempurna" itu gue juga bakal dijodohin." Wkwkwkk Gilak ya omongan gue suka ngasal bin ngaco. Jadi weh baru² ini Tuhan semacam menampar gue, seakan² kasih gue pilihan yg bener² bikin gue mikir. Aaaaahhh mau bener² berjodoh ama skripsi yang selesai tepat waktu aja gue tuuuhhh. Itu dulu plis yaAllah... :(

Eh... Tapi lu tau ga si? Ketika gue cerita ke doi² yg pernah singgah di hati, eakkk. Gimana jika suatu saat ucapan gue jadi kenyataan, bahwa gue beneran dijodohin? Gue kadang jadi ikut semangat dan kadang jadi ikut makin rieut aja. Karena ada yg bilang mau tetep perjuangin sampai restu diraih, ada pula yang dengan santainya melepas gue tanpa perlu ada babibu lagi. Ga salah sih... Karena dengan bertanya gitu aja sebenernya gue udah melukai perasaan si doi. Tapi, oke kalo gue disuruh pilih "terserah" sebagai jawaban, gue bertindak egois sesekali boleh kan? Karena banyak hal yg sudah menyakiti gue juga sebetulnya, salah satunya dengan melemparkan keputusan sepenuhnya ke gue yg seharusnya bisa didiskusikan bersama. Atau kalau gue memang harus pergi dan saling melepaskan, beri gue kalimat penjelasan yg bisa gue terima dengan baik, gue sangat tidak bisa membaca karakter setiap orang, gue bukan dukun.

Suatu saat, gue perlu tau bagaimana sebenarnya perasaan seseorang untuk gue, mau bagaimana, gue capek kalau lagi² ini hanya permainan, gue harus berani. Meski harus menjadi egois.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEXT RESUME (CHAPTER FIVE, SIX AND SEVEN)

CHAPTER FIVE THE FAIR PERSUADER: ONE-SIDED VERSUS BALANCED ARGUMENTS Generally, when trying to persuade people to “do stuff,” most people only present a one-sided argument - they talk only about the benefits of the idea/product. We’re scared that pointing out weaknesses in our ideas/products will reduce our persuasiveness. We believe that if we only talk about the pros of an idea/product and ignore the drawbacks, then perhaps other people won’t realize the drawbacks of what we’re selling. 17. The Fair Persuader: Create the perception that you are a fair persuader by offering  what appears to be a fair and balanced argument, but then offer-counterarguments  that make your idea/product seem like the best choice. CHAPTER SIX INOCULATION What is inoculation? “Attitude inoculation is a technique used to make people immune to attempts to change their attitude by first exposing them to small arguments against their position. It is so named because it w...

CHAPTER EIGHT THE PETRIFIED FOREST

CHAPTER EIGHT THE PETRIFIED FOREST One of the most powerful persuasion techniques is social proof. Advertisers and marketers know the power of social proof, which is why they use it so often in their marketing materials. Social proof demonstrates to potential customers that a product is popular, causing the customers to think that the product is good to buy. 21 – THE SITCOM LAUGHTER TRACK Television studios realize the power of social proof, which is why a lot of TV sitcoms contain canned laughter. Research has found that people who view sitcoms that have laughter tracks find the sitcoms to be funnier than sitcoms that don’t. It can happen because the canned laughter serves as social proof, and when we hear people laughing, it causes us to laugh too. In another example of the power of social proof, researchers who joined a door-to-door charity campaign found that the longer the list of prior donors, the more likely it was that the person being solicited would donate as well....