Langsung ke konten utama

Nyawa dan Harapan

Dear, orang-orang yang tidak akan pernah mengerti.
Gue boleh cerita? Gue adalah seorang perempuan muda yang takut dengan hidup yang gue miliki. Oh no, hidup ini bukan milik gue, ini hidup dari Tuhan yang diberikan pada gue. Titipan.

Lu tau ga? Banyak sekali teman yang gue punya, sangat banyak. Teman laki-laki apalagi. Banyak sekali yang senang dengan gue. Tapi... Tidak semuanya bertahan lama. Kenapa? Minder duluan, takut duluan, karena gue selalu bilang "lu ga akan kuat sama gue, hidup gue complicated, lu bakal banyak sakit hati dan kecewa". Ada yang sudah berniat baik, tapi gue yang akhirnya memutuskan untuk melepaskan, gue gamau menyakiti dia lebih jauh karena tau ujungnya akan bagaimana. Tapi ada juga yang masih ingin memperjuangkan gue hingga saat ini. Boleh dibilang, gue sangat takut kehilangan orang² yang akhirnya berhasil membuat gue nyaman, sampai akhirnya gue takut punya hubungan sama cowok jenis apapun. Karena tau ujungnya bakal gimana. 

Gue bukan tipe orang yang bener-bener bisa sendirian. Ok gue ini cewek yang (katanya) mandiri dan bisa melakukan banyak hal sendirian, tanpa ditemani siapa-siapa, tapi, kalo gue buka-bukaan sama diri sendiri, gue ini kacau sendirian, stressed out, ga punya teman ngobrol yang bisa membuat semua emosi gue terluapkan dengan sempurna. Gue bukan tipe perempuan pendiam, bukan. Dan tau kan gimana rasanya orang yang aslinya cerewet seketika jadi pendiam? Seperti kehilangan nyawa dan harapan. Wkwkk.

Guys, gue adalah tipe orang dengan ranah pertemanan yang "bebas", apalagi gue mulai aktif masuk dunia event, ikut kepanitiaan ini itu, yg ga cuma taraf kampus tapi juga sudah pernah menjajal nasional dan internasional yg membuat gue akhirnya bertemu orang² baru. And you know what? Kalau dilihat dari cover, mereka ga ada yang keliatannya manusia baik-baik, ga ada yang terlihat "levelnya" berlatar belakang pendidikan tinggi, aduh sori banget ngomongin level itu kasar sekali menurut gue. Tapi ya udahlah... Semoga kita semua berada di level yg sama di mata Tuhan, penilaian manusia itu nggak penting sama sekali. Ok balik lagi ke temen² yg gue temui di event, gini ya, gue ga pernah merasa PD berada di antara orang-orang yang punya banyak pengalaman entah dalam hal kerjaan ataupun pergaulan, gue takut keliatan polos bangetnya dan nantinya di bego-begoin orang. Tapi Lo tau ga setelah mereka membuka suara dengan gue? Bukan cuma gue yg ajak ngobrol duluan, tapi mereka juga interaktif sekali. Mereka sangat hangat dan seru diajak bicara, mereka melihat manusia kecil yg minim pengalaman kayak gue ya sebagai manusia yang harus dirangkul dan dibimbing, bukan dicuekin gitu aja. Dan itu pertama kalinya gue percaya bahwa manusia tidak bisa hanya dikenali dari segi luarnya, ga cuma bisa kita ulik dari latar belakangnya, iqro itu penting, membaca kepribadian oranglain dengan saling membuka diri untuk bertukar bahasan dan pikiran. Itulah kenapa sebenarnya gue tipe manusia yang sangat penasaran akan banyak hal tapi sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, karena satu hal, malu, takut salah dan takut kelihatan begoknya. Hahaha

That's why sampai sekarang pertemanan gue dengan siapa saja insyaAllah selalu baik, dan kalau emang menemukan kawan lama menyapa kembali, seburuk apapun tampilan dia saat ini, dia masih manusia yang harus gue jawab juga kan sapan dan salamnya? Gue bukan Tuhan yang berhak menjudge seorang manusia itu baik atau tidak, apalagi memberi label bahwa seseorang berada di level sekian, yaAllah... Bagi gue, mereka memperlakukan gue dengan sangat baik pun sudah lebih dari cukup. Bisa menerima sifat gue yang banyak kurangnya pun gue sudah bersyukur. Bahkan ada beberapa yang bilang, "jangan baiknya aja lu liatin. Diri lu versi terburuknya juga harus lu kasih tau, biar tau mana orang yang tulus menerima segala kurangnya elu." Gue diberitahu untuk tidak munafik rupanya. Menahan marah dan ego itu baik, tapi lebih hebat kalau kita tau menempatkannya dimana dan kapan saja.

Oh iya, gue mau tekankan ini. Dekat dengan banyak manusia terutama cowok, bukan berarti gue cewek ga bener, cewek agresif yang ga punya harga diri. Faktanya adalah, berkali-kali gue bersahabat dengan perempuan dan... Gue ditinggal, gue kehilangan lagi, mereka pergi, gatau sudah malas atau bosan karena gue adalah manusia yang paling sulit diajak main keluar. Boro² main, shopping aja mikir ribuan kali dulu. Bukannya gamau, sulit aja. Pertama, ga selalu punya duit, yang kedua ribet di perizinan wkwkk. 

Jujur aja deh, gue salah satu orang yang sangat butuh diberi motivasi dan dukungan dari oranglain, terutama yang terdekat. Dan merasakan kehilangan itu suatu hal yang sangaaaattt menyakitkan buat gue. Kehilangan kawan yang dulunya selalu ada misalnya, perih. Itu kebanyakan ujung dari pertemanan gue dengan para wanita. Kalo cowok, beda lagi, gatau kenapa, sejauh apapun temenan sama cowok, dan sesibuk apapun mereka, kalau Lo butuh teman cerita dan butuh diskusi banyak hal, mereka ADA. Mereka siap. Mereka meluangkan waktu, dan tidak mudah melupakan gue sebagai teman yg butuh dia. Satu lagi yang terbaik dari para temen cowok gue, tidak serta menjudge ketika kita sedang emosi dan juga mereka tidak baperan. Andai semua manusia gitu. Hehe

Hm... Guys, gue sering dikaitkan ingin ngebet nikah. Boleh jujur? Itu asumsi yang menyakitkan banget. Kenapa sih? Keliatannya dimana? Gue selalu punya alasan kenapa milih mau begini, gue suka dengan konsep perjuangan bersama, gue sedang berjuang dengan jalan dan fokusnya gue dan dia dengan jalan fokusnya dia. Kita kuatkan sama-sama sampai bener² bisa tunjukin kalo kita siap melangkah ke jenjang yang lebih serius. Bukan sekedar pacaran hahahehe, itu udah masuk komitmen dengan segala konsekuensi dan goals yang akan dicapai menurut gue. Seru bayangannya, belum ada yg bisa kuat jalanin ampe sekarang aja sayangnya. Oiya, bisa sih disebut gue ngebet nikah, KALAUUUU si COWOKNYA udah bener² mapan dan tajir melintirrrr it's OK nikah besok ge jadiii. Tapi guepun sadar, cowok itu besar dan banyak sekali tanggungjawabnya. Gue hargai lah mereka yang ingin berjuang dengan segala prioritasnya dulu.

Dear, orang-orang yang semoga sampai sini mulai mengerti, FAKTANYA adalah... gue ini ga bisa apa-apa serba sendirian. Capek kalo boleh jujur, capeeeeeek banget. Kadang pengen istirahat sebentar dan minta tolong sama satu orang yang gue percaya selain keluarga untuk bisa jaga gue, untuk bisa jadi teman bicara gue, berbagi keluh kesah karena gue ini si pengeluh yg butuh meledakkan semua isi kepala, kalo ga gue bisa stress sendiri. Gue ga tau apa yang membuat gue di judge sebagai orang yang kebelet nikah, apa karena gue memilih untuk mau punya komitmen sama seseorang di usia gue yg masih awal kepala dua ini dan belum lulus kuliah? 

Ga semua komitmen itu buruk dan isinya kegiatan yang bebas tanpa aturan dan ga tau batasannya. Yaelahhh bukan anak SMP yang barbar lagi kali ah. Gue selalu ambil contoh hubungan manusia yang lamaaaa banget dan akhirnya punya goal yang bisa dicapai. Tasya Kamila 8 tahun berkomitmen, Isyana Saraswati tuh yg baru bgt ketauan 12 tahun berkomitmen, Gilak yaa... Gue salut sih, ngapain aja coba? Ya kalo mau ambil positifnya, dia dan doinya ngabisin waktu sepanjang itu dengan terus berkarya! Habisin waktu buat sibuk masing-masing, kalau ada sedikit waktu luang baru deh habisin waktu bersama, bersama ga melulu lakuin hal² diluar batasan kita kan? Gimana manusianya! Otaknya kotor atau ga. Jangan sama²in. Ga semua orang seneng digituin. Kalo gue sendiri mengartikan kebersamaan quality time sama seseorang itu ya sebagai apresiasi diri, lakuin hal yang gue suka setelah kemarin-kemarin sangat sibuk dan penat menyelesaikan banyak hal berat, saatnya pikiran dan hati gue beristirahat dengan seseorang yang mampu membuat nyaman. Tentunya karena masih komitmen, ya istirahatnya sejenak, belum bisa selamanya bersama dia. 

Gimana caranya mengapresiasikan diri gue? Ya itu tadi, lakuin hal-hal yang gue suka bersama seseorang yang menyenangkan. Contohnya, makan apapun yang gue suka, ngabisin waktu di Timezone atau menikmati bermain dengan alam, bercerita hari-hari berat yang sudah dilewati, bertukar pikiran, atau tersimplenya sekedar duduk berdampingan dan lakuin hal yang gue suka, nyanyi bareng sambil gitaran misalnya, itu seru banget sih... 

FYI, Gue bukan tipe orang yang ribet, kemana-mana aja jarang, mau ribet gimana? Paling klo mo pergi ribet milih baju sama shade lipstik :( Kemana sih perjalanan gue paling jauh? Oh pernah ke salah satu tempat wisata di Bandung, itupun diajak dan ikut orang dan berakhir tidak menyenangkan. Satu hal yang akhirnya buat gue takut. Takut untuk main jauh lagi. Sudah berusaha jujur sih... Tapi kalau jujur kita kurang dihargai dan pilihan kita kurang diapresiasi, ingin bercerita pada siapa lagi? Sudahlah tutup pintu kamar lagi, gue cukup bercerita pada Tuhan saja yang Maha Mendengarkan dan super pengertian. Anyways, Thankyou sudah baca tulisan absurd ini. Bye.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CHAPTER NINE-THIRTEEN

CHAPTER NINE THE ROKIA TECHNIQUE Another powerful tool in your persuasion toolkit is stories. Stories are very powerful and persuasive. A story can be so successful because it aroused people’s emotions . People make decisions based both on emotion and logic. The stories are powerful when it comes to persuading people, but what exactly are the elements of a persuasive story? Simply, a persuasive story contains:  Characters - At least one or more people must be a part of the story.  Conflict - The characters must be encountering some kind of conflict/difficulty.     Cure - There must be a cure that helps the character overcome the conflict/difficulty  Change - The characters must change as a result of having overcome the conflict 23: THE ROKIA TECHNIQUE Now, let’s look at an experiment conducted by Deborah Small, George Lowenstein and Paul  Slovic. In the experiment, the participants were given a questionnaire to fill out and handed a  $5 r...

CHAPTER EIGHT THE PETRIFIED FOREST

CHAPTER EIGHT THE PETRIFIED FOREST One of the most powerful persuasion techniques is social proof. Advertisers and marketers know the power of social proof, which is why they use it so often in their marketing materials. Social proof demonstrates to potential customers that a product is popular, causing the customers to think that the product is good to buy. 21 – THE SITCOM LAUGHTER TRACK Television studios realize the power of social proof, which is why a lot of TV sitcoms contain canned laughter. Research has found that people who view sitcoms that have laughter tracks find the sitcoms to be funnier than sitcoms that don’t. It can happen because the canned laughter serves as social proof, and when we hear people laughing, it causes us to laugh too. In another example of the power of social proof, researchers who joined a door-to-door charity campaign found that the longer the list of prior donors, the more likely it was that the person being solicited would donate as well....

NEXT RESUME (Chapter 3 and Chapter 4)

CHAPTER THREE THE EXPERT SPILLOVER EFFECT, GEEK STREET AND OTHER COOL TECHNIQUES In the second chapter we discuss about WHIIM, and now, it will tell us about answering WHIIM questions from the prospects will make them want to buy or interesting with our products. 6 – THE EXPERTISE ADVANTAGE However, even then, you will encounter resistance if people doubt your credibility - if they don’t believe that you’re an expert on the solution or idea you’re selling. Since the correlation between expertise and persuasion is clear, let’s have a look at how you can establish your credibility and expertise. 7 – “SEE MY DECORATED WALL?” I believe, everyone will be more believable and interesting to buy or know more about the product that is selling by the person who had so many achievements in her/his life. for the example, there are two books in the bookstore, the first book of education had written by a high school dropout students and the second is the book that written ...